Curhat Cinta Online: Aku Tempuh 600 Kilometer!

curhat online bandung jogjakarta

Dear BB, gue mau Curhat Online nih. Nama gue leo, gue tinggal di Bandung. Cerita ini terjadi di awal 2014 lalu. Sebelumnya, gue kuliah di sebuah perguruan tinggi di Jogjakarta, dan tahun 2013 lalu gue lulus kuliah. Saat itu gue sedang menjalin hubungan dengan seorang gadis yang menurut gue cantik banget, dia anak Salatiga, namanya Nurul. Umurnya hampir dua tahun lebih tua dia dibanding gue. Ya, namanya cinta, umur gak masalah lah bagi gue.

Pas gue lulus kuliah 2013 lalu, umur pacaran gue udah lumayan lama, udah nyampe 1 tahunan lebih. Suatu hari Nurul mengatakan ke gue kalau Orang tuanya menuntutnya untuk segera menikah. Dia pun memintaku untuk menikahinya. Sementara gue, kuliah juga baru lulus dan kerjaan juga belum dapet jadi mau gimana lagi. Gue hanya bilang ke dia, sabar ya sayang, kasih aku kesempatan sejenak untuk mencari pekerjaan. Setelah dapat, gue gak bakalan nunggu waktu lagi dan segera akan menikahi kamu. Karena gue juga cinta sama kamu, Nurul adalah satu-satunya cewek yang gue harepin buat jadi istri gue, nemenin hari-hari gue selamanya.

Lewat 1 bulan, gue di Jogjakarta masih belum dapet kerjaan, apalagi gue orangnya idealis, gue gak bisa kalau harus kerja dengan gaji kecil atau diperusahaan yang biasa-biasa saja, alasannya simpel, gue hanya ingin hidup gue dan keluarga gue memperoleh kehidupan yang layak. Laki-laki memang selalu merasa takut jika istri dan keluarganya kelak kesusahan, makanya laki-laki kalau diajak menikah bukannya gak mau, tapi pikirannya jauh kedepan.Tanggung jawabnya sangat besar sebagai kepala keluarga.

Bulan berikutnya gue bilang ke Nurul. kalau sepertinya gue harus meninggalkan Jogja dan mencari pekerjaan di kota lain. Sasaran gue yakni di Bandung atau Jakarta. Gue bilang ma dia, tolong jaga hati kamu karena gue juga demikian, gue jauh-jauh dan dengan berat hati meninggalkan dia hanya untuk mencari pekerjaan dan setelah itu menikahinya. Intinya, semua yang gue kerjain hanya untuk dia semata. Semakin cepat gue dapet kerja, maka semakin cepet gue nikahin dia. Impian gue begitu juga Nurul adalah kita menikah dan hidup dalam sebuah keluarga yang Sakinah Mawahdah dan Warohmah.

Kita pun sepakat untuk saling menunggu satu sama lain. Gue faham kalau Nurul udah dewasa menyikapi hal ini. Akhirnya dengan penuh berlinang air mata, kitapun berpisah untuk sementara waktu, gue pulang ke Bandung dan start dari sana untuk berburu pekerjaan.

Hari demi hari dan bulan demi bulan gue tak kunjung dapat pekerjaan, gue kasihan sama Nurul, disisi lain gue takut kehilangan dia. Tiap hari kita komunikasi di telpon saling ngungkapin rasa rindu yang udah terlalu menumpuk dan tak tertahan. Lama kelamaan Nurul mulai merasa jenuh, usianya yang terlanjur semakin matang serta tuntutan orang tuanya agar dia segera menikah menjadi beban mental tersendiri buat dia.

Hingga suatu malam di telponnya, terdengar suara tangisan yang begitu menyayat hati, dia mengatakan kalau dia tak sanggup lagi menunggu gue terlalu lama. Dia minta agar gue melupakannya.

"Tolong... lupakan aku...maafkan aku.."

Gue hanya bisa termenung dan memohon dia agar memberikan kesempatan sekali lagi ke gue.

"Tolong Nurul, kasih aku kesempatan sekali lagi, satu bulan lagi.."

Tapi dia gak bisa, gue mulai curiga, apakah jangan-jangan ada laki-laki lain disana yang siap mewujudkan keinginan dia dan keluarganya? Akhirnya, gue beraniin untuk datang ke Jogjakarta dengan harapan Nurul tetap memberikan aku kesempatan.

Pagi-paginya, gue langsung berangkat ke Jogjakarta dengan menggunakan Motor kesayangan gue. Waktu itu gue mampir di Bandung kota dan membelikan cincin emas karena gue juga mau sekalian melamarnya secara langsung. Panas terik, dan sesekali hujan karena saat itu lagi musim hujan gue lalui dengan perasaan yang gak karuan. 600 kilometer gue tempuh dan hanya berhenti di SPBU buat ngisi bensin saja.

Sesampainya di Jogjakarta pukul 20:45 WIB, Gue langsung menuju tempat kerjanya di Saphir Square, namun ternyata tempat kerjanya sudah tutup. Gue coba SMS dia, namun apa balasannya, dia gak mau ketemu gue, dia minta lupakan dia. Padahal saat itu gue udah ada di Jogja, Gue bilang gue udah ada di Jogja, tolong hargain gue.

Akhirnya gue menuju Kostnya, gue tungguin didepan gerbangnya. Gue nunggu hingga 1 jam lebih dan menunjukkan hampir pukul 22:00 WIB. Tapi dia gak kunjung datang, Gue telpon dia namun gak diangkatnya, sebentar kemudian, dia membalasnya dengan SMS.

"Maaf Aa, aku gak pulang, sudah aa pulang saja.."

Gue langsung bertanya-tanya, kemana dia akan pulang? padahal ini adalah kost nya. Gue mulai curiga, dia menghindar ke gue dan lebih memilih teman-laki-lakinya. What?? jangan-jangan dia memang udah mempunyai cowok baru??

Gue gak putus semangat saat itu, berbekal cincin yang gue bawa, gue keliling Kota Jogja untuk mencari dia, saat itu gue kusut banget karena belum sempat cuci muka, juga gue belum makan.Tapi hal itu gak menyurutkan niat gue. Gue kunjungi tempat tempat yang gue pikir dia akan kunjungin, kebeberapa tempat makan. Namun tetap gue belum nemuin dia.

Gue pun berhenti sejenak, gue menatap kelangit. Gue bingung Men, gue berdoa minta pertolongan Tuhan agar gue dipertemukan dengan Nurul. Hingga akhirnya gue menuju tempat makan terakhir yang biasa kita makan disana. Dan ternyata, pas gue masuk ke tempat makan itu, gue menemukan Nurul gue dengan laki-laki lain yang penampilannya cukup rapi.

Saking cintanya gue ke Nurul, gue gak langsung mendekat ke dia. Gue pura-pura memesan makanan dan lewat didepan mereka. Gue gak mau membuat cowoknya curiga dengan keberadaan gue. Gue gak ingin merusak hubungan Nurul dengan dia yang menjadi pilihannya.Gue hargain mereka. Gue coba tegar didepan dia seolah tak terjadi apa-apa, padahal didalam hati gue, gue sakit banget. Cincin yang rencananya buat Nurul gue pegang didalam saku celana gue.

Sesekali, gue melihat ke arahnya dan tersenyum manis seolah ikut bahagia atas pilihannya. Ya, cinta memang gak harus memiliki, yang penting melihatnya bahagia dan gue menderita itu sudah cukup bagi gue, gue ikhlasin walau hati gue sedih menjerit saat itu.

Tak lama, diapun pergi ninggalin Gue, dia melihatku sejenak dan memberikan senyuman seolah dia meminta maaf ke gue. Gue balas senyuman seolah gue mengatakan, "Tidak apa apa sayang..". Saat dia berlalu, HP gue bergetar dan SMS darinya yang terakhir yang gue baca sampai sekarang.

"AA, Maafin aku ya...."

Gue hanya bisa balas,

"Iya sayang, Gpp... A doain semoga kamu bahagia.Jaga dirimu.."


Inilah perjalanan 600 kilometer antara Bandung-Jogja yang gue tempuh seharian dan pengorbanan gue memang tak seberapa dibanding sakitnya hati gue saat itu. Gue hanya pesan bagi kita semua, apapun endingnya kisah cinta kita, ketika kita mencintai seseorang, cintailah dia dengan sepenuh hati, setulusnya kamu dan jangan sekali-sekali mengianati cinta. Gue selalu percaya selalu ada hikmah yang baik disamping ini semua.

Wassalam.
Leo.

Kirimkan Curhatan sobat ke:
Email: Jadilahdeni@Gmail.com
Facebook : Bitibingit

Subscribe to receive free email updates: